Mengenal Suku Sasak Lebih Dalam, Perjalanan Desa ke Desa yang Cuma Bisa dengan Rental Mobil Lombok

Ada pertanyaan yang tidak aku rencanakan untuk ditanyakan waktu pertama kali ke Lombok, tapi justru pertanyaan itu yang paling banyak berubah cara aku melihat pulau ini setelahnya.

Pertanyaan itu keluar begitu saja waktu aku duduk di teras sebuah rumah kecil di Desa Sade, menunggu pemandu lokal yang sedang ambil minum. Seorang perempuan tua duduk di kursi kayu tidak jauh dari tempatku, tangannya bergerak otomatis mengerjakan tenun meski matanya sama sekali tidak menatap kain yang sedang dibuatnya. Jarinya hafal.

Aku tidak tahan dan akhirnya tanya, meski dengan bahasa Indonesia yang disambut dengan senyum ramah sebelum jawabannya: “Sudah sejak umur delapan tahun, Pak.”

Dia belajar menenun sejak umur delapan tahun. Dan sekarang, dengan rambut yang sudah putih semua dan tangan yang sudah tidak bisa sepenuhnya meluruskan jari-jarinya, dia masih menenun setiap hari.

Itu momen yang tidak ada dalam itinerary manapun. Dan itu hanya terjadi karena aku punya waktu untuk duduk bukan terburu-buru mengikuti jadwal tur paket dan karena aku punya kendaraan sendiri yang memungkinkan aku untuk tetap di sana selama yang aku mau, bukan selama yang diizinkan sopir.

Perjalanan desa ke desa di Lombok mengajarkan hal-hal yang tidak bisa diajarkan oleh foto apapun di internet. Dan tulisan ini adalah cerita dari semua itu.

Mengapa Desa, Bukan Destinasi Wisata

Sebelum masuk ke ceritanya, aku mau jelaskan dulu mindset yang mendasari perjalanan ini  karena menurutku ini yang paling penting.

Lombok punya banyak destinasi wisata yang sudah “jadi” sudah ada tiket masuknya, sudah ada area parkirnya, sudah ada pedagang souvenir di pintu masuknya, dan sudah ada papan foto instagramable yang dipasang di spot-spot strategis. Semua itu tidak salah, dan banyak yang memang bagus untuk dikunjungi.

Tapi desa-desa Sasak yang tersebar di berbagai penjuru pulau ini menawarkan sesuatu yang berbeda sesuatu yang tidak bisa dikemas dan dijual sebagai paket wisata tanpa kehilangan esensinya. Ia tentang kehidupan yang berjalan apa adanya, tradisi yang dipraktikkan bukan untuk ditonton tapi karena memang begitulah cara mereka hidup, dan interaksi yang terjadi bukan karena ada script yang harus diikuti tapi karena ada dua manusia yang kebetulan bertemu di tempat yang sama.

Untuk bisa mengakses pengalaman seperti itu, kamu perlu bergerak dengan cara yang berbeda dari wisatawan biasa. Tidak dengan bus pariwisata yang jadwalnya sudah terprogram. Tidak dengan tur paket yang durasinya per destinasi sudah ditentukan dari awal. Tapi dengan kendaraan yang kamu kendalikan sendiri, yang bisa kamu bawa masuk ke desa-desa kecil yang jalannya hanya cukup untuk satu kendaraan, dan yang bisa kamu parkir di pinggir jalan kapanpun ada sesuatu yang menarik perhatianmu.

Persiapan yang Berbeda dari Biasanya

Trip ke desa-desa Sasak ini aku persiapkan dengan cara yang sedikit berbeda dari perjalanan wisata biasa.

Aku tidak menyusun itinerary yang padat. Yang aku buat hanya daftar desa-desa yang ingin aku kunjungi Desa Sade, Desa Ende, Desa Sukarara, Desa Beleq Senaru, dan beberapa desa kecil di Lombok Timur yang namanya aku dapat dari buku tentang budaya Sasak yang aku beli beberapa minggu sebelum berangkat. Antara satu desa dan desa lain aku biarkan terbuka siapa tahu ada yang lebih menarik di jalan.

Hal kedua yang aku siapkan lebih teliti dari biasanya adalah kendaraan. Untuk rute desa ke desa yang sebagian melewati jalan yang tidak selalu lebar dan tidak selalu mulus, aku perlu kendaraan yang kondisinya bisa diandalkan dan tidak terlalu besar untuk masuk ke gang-gang desa.

Aku hubungi Lepas Kunci Lombok beberapa minggu sebelum keberangkatan. Seperti biasa, aku ceritakan detail rencana perjalanan termasuk beberapa desa yang lokasinya agak masuk ke pedalaman dan mereka memberi gambaran yang realistis soal kondisi jalan serta merekomendasikan unit yang paling sesuai. Tidak ada yang berlebihan dalam penilaian mereka, tidak ada yang meremehkan juga. Dan itu yang paling aku butuhkan: informasi yang jujur, bukan yang dibuat untuk meyakinkan aku booking.

Desa Sade: Yang Sudah Terkenal tapi Masih Punya Kejutan

Desa Sade mungkin adalah desa adat Sasak yang paling sering disebut dalam itinerary wisatawan Lombok. Lokasinya di Lombok Tengah, tidak jauh dari jalur utama menuju Kuta, membuatnya relatif mudah dijangkau dibanding desa-desa lain yang lebih terpencil.

Tapi justru karena sudah sering disebut, banyak orang mengunjunginya dengan ekspektasi yang sudah terbentuk dan tidak semua siap untuk apa yang benar-benar ada di sana.

Aku tiba di Desa Sade pukul delapan pagi, jauh sebelum rombongan wisatawan biasanya mulai berdatangan. Di jam itu, desa masih hidup dengan ritme hariannya sendiri. Perempuan-perempuan mengerjakan tenun di teras rumah, anak-anak bersiap berangkat sekolah dengan seragam yang sudah disetrika rapi, dan beberapa orang tua duduk berkelompok di satu sudut berbicara pelan-pelan.

Pemandu lokalnya seorang pemuda bernama Amaq Sari, nama panggilan yang artinya kurang lebih “bapaknya Sari” meskipun dia baru berusia dua puluhan menyambut aku di pintu masuk dengan senyum yang tidak terasa dibuat-buat.

Selama hampir dua jam berkeliling bersama Amaq Sari, yang paling berkesan bukan arsitektur rumah tradisionalnya meski itu memang menakjubkan. Bukan juga penjelasan soal lantai yang dibersihkan dengan cara yang khas meski itu juga mengejutkan. Yang paling berkesan adalah cara dia berbicara soal desanya dengan campuran kebanggaan dan kekhawatiran yang tidak dia sembunyikan.

“Generasi muda banyak yang lebih suka kerja di kota,” katanya waktu kami berdiri di depan rumah yang temboknya sudah sedikit retak di beberapa bagian. “Tapi ada juga yang pulang. Yang pulang inilah yang menjaga.”

Kalimat itu sederhana tapi berat. Dan aku membawanya jauh setelah meninggalkan Desa Sade.

Desa Sukarara: Di Mana Kain Berbicara

Dari Desa Sade, aku berkendara ke Desa Sukarara di Lombok Tengah sekitar 20 menit ke arah yang berbeda. Desa ini dikenal sebagai pusat tenun Sasak, di mana hampir setiap rumah punya alat tenun dan hampir setiap perempuan bisa menenun sejak kecil.

Jalur masuk ke Sukarara melewati jalan yang lebih kecil dari jalan utama. Dengan kendaraan sendiri, aku bisa masuk langsung tanpa harus berdiri di pinggir jalan utama menunggu ojek atau mengikuti rombongan yang masuknya ramai-ramai.

Di Sukarara, aku tidak ke pusat tenun yang resmi dengan deretan kain yang sudah dipajang dengan harga tertulis. Aku ikuti saran Amaq Sari dari Desa Sade tadi masuk ke bagian desa yang lebih dalam, cari rumah yang di depannya ada alat tenun aktif.

Tidak lama, aku menemukan seorang ibu yang sedang menenun di teras rumahnya. Usianya mungkin sekitar empat puluhan, rambutnya diikat ke belakang, dan tangannya bergerak dengan ritme yang konsisten maju mundur, atas bawah, dengan suara kayu yang benturannya membentuk irama tersendiri.

Aku berhenti di depan pagarnya dan tanya boleh melihat. Dia mengangguk dan mempersilakan masuk.

Aku duduk di sana hampir satu jam. Dia menenun dan sesekali menjelaskan dalam campuran bahasa Indonesia dan Sasak yang sebagian aku mengerti dan sebagian aku hanya mengangguk sambil memerhatikan tangannya. Motif yang sedang dibuatnya adalah motif Subahnale salah satu motif tenun Sasak yang paling kompleks, yang katanya butuh konsentrasi tinggi dan tidak bisa dikerjakan kalau sedang dalam suasana hati yang tidak tenang.

“Kalau pikiran lagi tidak jernih, benangnya sering salah,” katanya sambil tersenyum.

Aku tidak tahu kenapa, tapi kalimat itu terasa berlaku untuk banyak hal di luar dunia tenun.

Desa Ende: Yang Jarang Masuk Rekomendasi

Desa Ende adalah penemuan yang aku tidak rencanakan sama sekali.

Dalam perjalanan dari Sukarara ke destinasi berikutnya, aku melihat papan kecil di pinggir jalan yang menunjuk ke arah desa dengan nama yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Karena punya kendaraan sendiri dan tidak ada yang menunggu, aku ambil belokan itu.

Jalan masuk ke Desa Ende sempit mungkin hanya cukup untuk dua motor berpapasan dengan nyaman, atau satu mobil yang harus berhati-hati. Tapi kondisinya beraspal dan cukup layak untuk kendaraan yang aku pakai.

Desa Ende ternyata adalah desa adat Sasak yang karakternya berbeda dari Sade. Tidak ada pemandu resmi di sini, tidak ada papan informasi, dan tidak ada penjual souvenir yang berdiri di pintu masuk. Yang ada hanya desa yang berjalan dengan ritme normalnya, dan beberapa warga yang menatapku dengan campuran keingintahuan dan keramahan yang khas.

Seorang bapak tua yang sedang membetulkan pagarnya melihat aku turun dari mobil dan langsung bertanya bukan dengan nada curiga, tapi dengan nada orang yang genuinely ingin tahu: “Dari mana? Mau ke mana?”

Aku bilang dari Jakarta, mau lihat-lihat desanya kalau boleh.

Dia letakkan peralatannya dan berkata, “Ayo, saya tunjukkan.”

Tanpa biaya, tanpa kontrak, tanpa agenda yang tersembunyi. Hanya seorang warga desa yang dengan sukarela menjadi pemandu selama hampir satu jam karena dia bangga dengan tempat dia tinggal dan senang kalau ada orang yang mau mendengarkan.

Itu salah satu pengalaman yang paling sulit aku ceritakan ke orang lain karena kedalaman rasanya tidak mudah dipindahkan ke kata-kata. Tapi aku tahu satu hal dengan pasti: momen itu tidak akan pernah ada kalau aku tidak punya kendaraan sendiri dan berani belok ke jalan yang papan namanya kecil dan tidak ada di Google Maps.

Senaru dan Desa Beleq: Ke Kaki Rinjani dari Utara

Hari berikutnya aku arahkan ke utara menuju kawasan Senaru di kaki Rinjani. Ini bukan rute wisata desa yang sama dengan hari sebelumnya, tapi ada satu tempat di kawasan ini yang sudah lama aku tandai: Desa Beleq.

Desa Beleq yang dalam bahasa Sasak berarti “desa besar” atau “desa induk” adalah desa adat tertua di kawasan Rinjani yang masih ditempati. Lokasinya agak masuk ke dalam dari jalan utama Senaru, dan aksesnya membutuhkan kendaraan yang bisa melewati jalan tanah berbatu di ujungnya.

Perjalanan dari kawasan Mataram ke Senaru membutuhkan waktu sekitar dua jam. Rutenya melewati Lombok Utara yang karakter alamnya berbeda dari selatan lebih hijau, lebih lembab, dengan pohon-pohon yang lebih tinggi dan rapat di kedua sisi jalan menjelang kawasan yang lebih tinggi.

Di satu tikungan sebelum masuk Senaru, Rinjani muncul dari balik awan di sebelah kanan jalan. Aku tidak berhenti sudah berkali-kali lihat pemandangan ini dan sudah bisa mengantisipasinya. Tapi tangan yang di setir tetap saja mengendur sedikit, refleks mengagumi yang tidak bisa dikontrol.

Desa Beleq sendiri lebih kecil dari yang aku bayangkan. Rumah-rumah berbentuk panggung dari bambu dan kayu, dengan atap ijuk yang tebal dan hitam. Tidak ada yang bisa masuk ke dalam rumah tanpa izin dari kepala desa atau perwakilan yang berwenang, tapi berkeliling di antara rumah-rumah itu dan mengamati struktur dan tata letaknya sudah cukup memberikan gambaran soal bagaimana nenek moyang suku Sasak merancang tempat tinggal yang bisa bertahan di kawasan yang curah hujannya tinggi dan suhu malamnya dingin.

Seorang perempuan muda yang sedang duduk di tangga rumahnya menatapku dengan ekspresi yang susah dibaca bukan mengusir, tapi juga bukan mengundang. Aku berdiri di jarak yang sopan dan mengangguk. Dia mengangguk balik. Dan kami menghabiskan beberapa detik dalam keheningan yang terasa seperti bentuk komunikasi tersendiri.

Lombok Timur: Desa yang Jarang Tersentuh

Hari ketiga aku dorong lebih jauh ke timur. Ini kawasan yang paling sedikit dikunjungi wisatawan dan paling banyak menyimpan kehidupan Sasak yang belum terlalu bersentuhan dengan industri pariwisata.

Dari Mataram, perjalanan ke kawasan Lombok Timur membutuhkan waktu dua hingga tiga jam tergantung tujuan spesifiknya. Jalannya bervariasi ada ruas yang mulus dan lebar, ada yang lebih kecil dengan kondisi yang perlu sedikit perhatian ekstra di belakang setir.

Di kawasan ini aku tidak menuju satu desa tertentu dengan nama yang sudah ada di daftar. Aku berkendara pelan dan mengikuti instinct belok ke jalan yang kelihatannya menuju ke pemukiman, masuk ke pasar kecil yang dari jalan utama kelihatan ada aktivitas di dalamnya, berhenti waktu ada sesuatu yang menarik perhatian.

Di satu desa kecil yang aku tidak tahu namanya sampai bertanya ke seorang anak yang sedang bermain di depan rumahnya, aku melihat upacara kecil yang sedang berlangsung di halaman sebuah rumah. Kursi-kursi plastik disusun menghadap ke pusat halaman, beberapa orang duduk dengan pakaian yang lebih rapi dari keseharian, dan dari dalam rumah terdengar suara gamelan yang mengalun pelan.

Aku parkir mobil di pinggir jalan dan duduk di sana, dari jarak yang tidak mengganggu. Seorang bapak yang lewat melihatku dan tanpa banyak bicara, mempersilahkanku masuk ke halaman dan duduk di kursi yang tersedia.

Ternyata itu acara syukuran keluarga yang baru punya rumah baru dan mengundang tetangga-tetangga untuk berdoa bersama dan makan bersama. Tidak ada yang aneh dengan kehadiran orang asing di sana, tidak ada yang mempermasalahkan. Aku duduk, makan hidangan yang diedarkan dalam piring-piring kecil, dan menjadi bagian dari momen kebersamaan yang tidak ada hubungannya dengan pariwisata.

Sebelum pergi, aku berjabat tangan dengan si tuan rumah. Dia tersenyum dan bilang, “Kalau ke sini lagi, mampir.”

Aku percaya dia sungguh-sungguh.

Yang Membuat Semua Ini Mungkin

Dari semua desa yang aku kunjungi dalam tiga hari itu Sade, Sukarara, Ende, Senaru, dan desa-desa tanpa nama di Lombok Timur ada satu benang merah yang menghubungkan semua pengalaman terbaik yang terjadi: semuanya membutuhkan kebebasan bergerak yang tidak bisa diberikan oleh transportasi apapun selain kendaraan milik sendiri.

Desa Beleq yang aksesnya melewati jalan tanah berbatu tidak ada travel sharing yang mau masuk ke sana. Desa Ende yang papan namanya kecil dan spontan aku temukan dari jalan tidak mungkin terencana dalam itinerary tur manapun. Upacara syukuran di desa tanpa nama di Lombok Timur tidak ada panduan wisata yang bisa membawa kamu ke sana karena tidak ada yang tahu kapan dan di mana hal itu akan terjadi.

Semua momen itu lahir dari kombinasi waktu yang fleksibel dan kendaraan yang ada di genggaman.

Layanan rental mobil Lombok yang aku gunakan untuk perjalanan ini, seperti yang aku sebut di awal, adalah Lepas Kunci Lombok. Mereka tidak hanya menyediakan kendaraan mereka memastikan kendaraan itu dalam kondisi yang bisa diandalkan untuk rute yang tidak selalu mulus, dan memberikan informasi yang membantu aku berkendara dengan lebih percaya diri di daerah yang baru.

Untuk perjalanan yang tujuannya menemukan hal-hal yang tidak ada di panduan wisata, pondasi paling pentingnya adalah punya kendaraan yang bisa kamu bawa ke mana saja kapanpun kamu mau. Dan itu dimulai dari keputusan yang dibuat sebelum kamu mendarat di Lombok.

Tips untuk Perjalanan Desa ke Desa di Lombok

Sebelum masuk ke penutup, ada beberapa hal praktis yang aku pelajari dari perjalanan ini dan sangat worth untuk kamu catat kalau berencana melakukan hal serupa.

Berangkat sepagi mungkin. Kehidupan desa di Lombok paling hidup di pagi hari sebelum matahari naik tinggi dan sebelum sebagian warga berangkat ke ladang atau ke pasar. Di jam-jam itulah kamu bisa melihat ritme desa yang paling autentik: ibu-ibu yang menenun di teras, anak-anak yang bersiap sekolah, dan aktivitas keseharian yang tidak dimodifikasi untuk ditonton.

Datang tanpa ekspektasi yang terlalu spesifik. Ini mungkin saran yang paling sulit diikuti tapi paling penting. Kalau kamu datang ke Desa Sade dengan bayangan yang sudah terbentuk dari ratusan foto di internet, kamu akan terus membandingkan realita dengan ekspektasi. Datanglah dengan pikiran yang terbuka biarkan desa itu memperkenalkan dirinya sendiri dengan caranya sendiri.

Pelajari beberapa kata dasar bahasa Sasak sebelum berangkat. Tidak perlu fasih. Tapi beberapa kata sapaan atau ungkapan sederhana dalam bahasa Sasak akan membuka pintu yang tidak akan terbuka kalau kamu hanya pakai bahasa Indonesia. Warga desa selalu terkesan dan langsung lebih ramah ketika mendengar tamunya mau berusaha bicara dalam bahasa mereka.

Bawa oleh-oleh kecil untuk anak-anak. Permen, pensil warna, atau buku kecil sesuatu yang sederhana tapi menunjukkan bahwa kamu datang bukan hanya untuk mengambil pengalaman tapi juga ingin memberikan sesuatu.

Jangan foto tanpa izin. Sebelum mengangkat kamera ke arah seseorang, tanya dulu. Cara paling mudah adalah dengan gesture: tunjuk kamera, tunjuk orang itu, lalu angkat alis seperti bertanya. Hampir selalu dimengerti dan hampir selalu dijawab dengan senyum atau anggukan.

Hormati batas yang tidak terucap. Ada ruang-ruang tertentu di desa adat yang tidak untuk dimasuki sembarangan. Kalau kamu tidak yakin apakah boleh masuk atau tidak, default-nya adalah tidak masuk sampai ada yang mempersilakan.

Ikuti ritme desa, bukan ritme wisatamu. Kalau kamu masuk ke desa dengan tergesa-gesa dan sudah ada jadwal destinasi berikutnya yang harus dikejar, itu akan terasa. Tapi kalau kamu masuk dengan tempo yang lebih lambat, duduk tanpa agenda yang jelas, dan membiarkan sesuatu terjadi dengan sendirinya itu yang membuka pintu untuk momen yang tidak bisa direncanakan.

Apa yang Aku Bawa Pulang

Pulang dari perjalanan desa ke desa di Lombok ini, aku tidak bawa banyak souvenir. Satu lembar kain tenun Sukarara yang aku beli langsung dari ibu yang mengerjakan sendiri bukan dari toko, tapi langsung dari tangan yang membuatnya. Dan beberapa foto yang kualitas visualnya mungkin tidak terlalu impresif tapi setiap kali aku lihat, aku langsung tahu persis suara, aroma, dan suhu udara di saat foto itu diambil.

Yang lebih banyak aku bawa pulang adalah yang tidak kelihatan. Gambar perempuan tua yang menenun tanpa melihat kainnya. Kalimat Amaq Sari soal yang pulang adalah yang menjaga. Keheningan yang mengisi beberapa detik antara aku dan perempuan muda di tangga rumahnya di Desa Beleq. Dan jabatan tangan tuan rumah yang dengan tulus mengundangku kembali.

Suku Sasak bukan subjek wisata. Mereka bukan atraksi yang bisa ditonton dari jarak aman lalu ditinggalkan. Mereka adalah komunitas yang punya sejarah panjang, tradisi yang kaya, dan masa depan yang sedang mereka negosiasikan sendiri di antara perubahan yang datang dari luar.

Untuk benar-benar mengenal mereka bukan sekadar melihat kamu perlu datang dengan cara yang berbeda. Tidak tergesa-gesa, tidak dalam rombongan besar yang kehadirannya mengubah suasana desa jadi seperti pertunjukan, dan tidak dengan jadwal yang tidak memberi ruang untuk duduk lebih lama waktu ada sesuatu yang menarik untuk didengarkan.

Kamu perlu bisa berhenti kapanpun. Masuk ke jalan yang tidak ada di peta. Dan tinggal lebih lama dari yang direncanakan di tempat yang ternyata punya lebih banyak yang bisa diberikan dari yang terlihat dari luar.

Untuk semua itu, cek ketersediaan dan detail layanan sewa mobil Lombok sebelum kamu memutuskan bagaimana cara bergerak di pulau ini. Karena cara kamu bergerak akan menentukan apa yang kamu temukan dan Lombok Sasak yang sesungguhnya hanya akan terbuka untuk yang datang dengan cara yang tepat.

Satu hal lagi yang ingin aku tambahkan untuk kamu yang serius ingin menjalani perjalanan seperti ini: jangan terburu-buru mengakhiri kunjungan ke satu desa hanya karena sudah foto dan sudah “lihat-lihat”. Duduklah lebih lama. Beli minuman di warung terdekat dan nikmati di sana. Biarkan percakapan terjadi dengan sendirinya. Perjalanan desa ke desa yang paling berkesan hampir selalu dimulai dari momen ketika kamu sudah hampir mau pergi tapi kemudian memutuskan untuk tidak.

Lombok Sasak bukan destinasi yang habis dalam satu kunjungan. Setiap desa punya lapisan yang hanya terlihat kalau kamu kembali lebih dari sekali, atau tinggal lebih lama dari yang direncanakan. Dan untuk bisa melakukan itu dengan bebas tanpa terikat jadwal orang lain, tanpa harus menunggu atau minta izin berhenti kamu butuh kendaraan yang ada di tanganmu sendiri sejak hari pertama.

Itu yang membuat seluruh perjalanan ini menjadi mungkin. Dan itu yang akan membuat perjalananmu ke Lombok menjadi lebih dari sekadar mengunjungi tempat tapi benar-benar merasakannya.